Depresi Kian Meningkat akibat Judi Daring dan Tekanan Finansial

Depresi Kian Meningkat akibat Judi Daring dan Tekanan Finansial

Depresi Kian Meningkat akibat Judi Daring dan Tekanan Finansial

Depresi Kian Meningkat akibat Judi Daring dan Tekanan Finansial – Meningkatnya gangguan kesehatan mental, khususnya depresi.

Gangguan kesehatan mental atau kejiwaan seperti depresi, kecemasan, dan skizofrenia gali77 diperkirakan meningkat beberapa tahun ke depan. Peningkatan gangguan kesehatan mental, khususnya depresi, ini bisa terjadi akibat adiksi terhadap judi daring dan ketidakstabilan ekonomi hingga menyebabkan tekanan finansial.

Psikiater Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC) Jakarta Adhi Nurhidayat menyampaikan, semua pihak termasuk masyarakat umum harus mengetahui tentang kesehatan mental, khususnya depresi. Sebab, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan depresi akan menjadi penyakit nomor satu di dunia pada tahun 2030.

“Kalau tak memahami depresi, di tempat kerja maupun di lingkungan keluarga, kita bisa terkejut nanti melihat makin banyak orang yang terkena penyakit ini. Bunuh diri yang banyak terjadi juga erat kaitannya dengan depresi,” ujarnya dalam diskusi terkait kesehatan mental di RS MMC Jakarta, Kamis (10/7/2025).

Peningkatan orang yang mengalami gangguan kesehatan mental termasuk depresi saat ini sudah mulai dirasakan Adhi. Judi daring merupakan salah satu penyebab orang kerap mengalami depresi. Bahkan, dalam tiga tahun terakhir, Adhi mencatat semakin banyak pemain judi daring yang menjadi pasiennya karena kehilangan uang miliaran rupiah.

Selain itu, ketidakstabilan ekonomi yang terjadi belakangan ini turut memengaruhi kesehatan mental banyak orang. Tekanan finansial, utang menumpuk, hingga kesulitan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari menjadi pemicu stres yang berlarut. Dalam situasi ini, banyak orang merasa terjebak tanpa jalan keluar sehingga rentan mengalami depresi.

Kalau tak memahami depresi, di tempat kerja maupun di lingkungan keluarga, kita bisa terkejut nanti melihat makin banyak orang yang terkena penyakit ini.

Adhi menekankan bahwa depresi adalah sebuah gangguan di otak manusia. Jadi, depresi bukan hanya masalah spiritualitas, melainkan memang terdapat masalah di struktur otak seseorang. Orang yang mengalami depresi juga kerap terlihat murung atau sedih berkepanjangan serta kehilangan minat dan kesenangan dalam menjalani hidup.

Gejala tersebut sering kali diikuti gangguan tidur, penurunan atau peningkatan nafsu makan, gangguan seksual, hingga pikiran untuk mengakhiri hidup. Oleh karena itu, pasien depresi wajib ditanya secara langsung apakah pernah terlintas keinginan untuk bunuh diri.

Adhi juga menyoroti tentang Treatment Resistant Depression (TRD) atau kondisi depresi yang tidak merespons pengobatan standar. Penderita TRD umumnya sudah mendapatkan dua jenis obat antidepresan berbeda dengan dosis yang tepat selama minimal dua bulan, tetapi tidak menunjukkan perbaikan.

Pasien TRD umumnya mengalami gejala depresi yang lebih lama, risiko kekambuhan lebih tinggi, dan risiko bunuh diri hingga tujuh kali lipat dibanding depresi biasa. Kondisi ini yang sampai kini menjadi tantangan besar, karena apabila tak tertangani dengan baik, risiko kematian pasien tersebut akibat bunuh diri bisa meningkat hingga 35 persen.

“Gangguan kesehatan mental makin sering muncul, terutama di negara berpenghasilan menengah ke bawah seperti Indonesia. Ketika kondisi ekonomi makin sulit, risiko depresi dan bunuh diri pun meningkat. Kita semua harus lebih peka melihat hal ini karena dampaknya nyata dan bisa terjadi di sekitar kita,” kata Adhi.

Gangguan psikis pekerja
Konsultan Senior Pra Rumah Sakit dan Pusat Kesehatan Kerja Rumah Sakit YARSI Edi Alpino mengatakan, persoalan disabilitas bukan hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga masalah kesehatan mental yang memengaruhi kemampuan seseorang dalam bekerja.

Dalam praktiknya, masih ditemukan kasus di mana pekerja dengan gangguan psikis menghadapi perlakuan yang tidak adil, termasuk risiko pemutusan hubungan kerja.

Edi mencontohkan, beban kerja berlebih, tekanan emosional, dan ketegangan di tempat kerja kerap memicu stres hingga gangguan mental seperti kecemasan dan depresi. Situasi ini, jika diabaikan, berdampak serius pada produktivitas individu maupun perusahaan.

Data American Stroke Association menunjukkan bahwa 31 persen pekerja mengalami stres saat bekerja. Namun, hasil survei State of the Global Workplace 2024 mengungkapkan pekerja Indonesia tercatat memiliki tingkat stres harian terendah di Asia, yaitu 60 persen, lebih rendah dibandingkan beberapa negara tetangga.

Meski demikian, Edi tetap mengingatkan pentingnya intervensi dini agar stres dapat dikelola. Stres tak selalu berdampak negatif. Pada tingkatan tertentu, stres bisa memicu seseorang termotivasi dan lebih produktif. Namun jika melewati batas, stres dapat menimbulkan kelelahan mental, anxiety, bahkan risiko penyakit fisik.

Ia juga menekankan perlunya perusahaan memahami karakter setiap pekerja, terutama yang memiliki kerentanan kesehatan mental. Beberapa kasus yang ditangani menunjukkan angka gangguan psikis di lingkungan kerja terus meningkat dari tahun ke tahun.

“ Kalau dipaksakan terus, stres yang tadinya memotivasi justru bisa menjadi beban. Di situlah pentingnya manajemen stres di lingkungan kerja. Konsekuensinya jelas bukan hanya pada orangnya, tetapi juga perusahaan,” ucapnya.

Lonjakan jumlah penderita depresi di Indonesia mulai mengkhawatirkan banyak pihak. Dalam beberapa tahun terakhir, para ahli kesehatan mental mencatat adanya tren peningkatan signifikan kasus depresi, terutama di kalangan usia produktif. Dua penyebab utama yang terus mencuat dalam laporan-laporan terbaru adalah kecanduan judi daring dan tekanan finansial yang melilit masyarakat, terutama pasca-pandemi dan di tengah ketidakpastian ekonomi.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, kasus gangguan kesehatan mental meningkat 18% dalam tiga tahun terakhir. Dari angka tersebut, lebih dari separuh pasien mengalami gejala depresi berat. Laporan tersebut juga mengungkap bahwa banyak pasien menunjukkan hubungan erat antara tekanan finansial dan aktivitas perjudian daring dengan kondisi psikologis mereka.

Jeratan Judi Daring dan Ilusi Cepat Kaya
Judi daring atau online gambling semakin marak sejak kemunculannya di berbagai platform. Dengan akses mudah melalui ponsel pintar dan iklan masif di media sosial, judi jenis ini dengan cepat menjaring jutaan pengguna, termasuk kalangan pelajar dan pekerja.

Fakta ini diamini oleh Ratna Wulandari, psikolog klinis dari RSJ Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat. Menurutnya, banyak pasien yang datang dalam kondisi terpuruk setelah mengalami kerugian besar akibat judi daring.

“Banyak dari mereka awalnya hanya coba-coba, tapi dalam waktu singkat jadi kecanduan. Kerugiannya bukan cuma uang, tapi juga hubungan sosial, pekerjaan, bahkan harga diri,” kata Ratna.

Ia menambahkan bahwa judi daring kerap memberi ilusi ‘cepat kaya’ atau ‘balik modal’ dalam waktu singkat. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Ketika kekalahan datang, seseorang terdorong untuk terus bermain demi menutup kerugian, hingga akhirnya terlilit utang.

Tekanan Ekonomi yang Tak Kunjung Mereda
Sementara itu, tekanan finansial menjadi faktor pemicu utama lainnya yang memperburuk kondisi mental masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok, sulitnya mencari pekerjaan tetap, serta ketidakpastian ekonomi global membuat banyak orang merasa kehilangan kendali atas hidupnya.

“Setelah pandemi COVID-19, ekonomi belum sepenuhnya pulih. Banyak orang kehilangan pekerjaan dan belum menemukan penghasilan yang stabil. Di tengah situasi itu, iming-iming judi daring tampil seperti jalan keluar, padahal justru menjerumuskan,” ungkap Dadan Nugraha, dosen ekonomi dan pengamat sosial dari Universitas Negeri Jakarta.

Menurut Dadan, kombinasi antara beban ekonomi dan jebakan judi daring menciptakan lingkaran setan. Ketika seseorang gagal mencukupi kebutuhan, ia mulai mencari cara instan, seperti berjudi. Namun saat kalah, beban psikologis bertambah, membuatnya semakin putus asa.

Kisah Nyata: Terpuruk karena Judi Online
Ardi (nama samaran), 28 tahun, adalah salah satu dari sekian banyak korban jeratan judi daring. Dulu ia bekerja sebagai teknisi freelance dengan penghasilan cukup untuk hidup sederhana. Namun karena pengaruh teman dan rasa ingin mencoba, ia mulai bermain slot online.

“Awalnya menang terus, jadi merasa gampang banget cari uang. Tapi lama-lama malah rugi, sampai pinjam ke banyak orang dan akhirnya dipecat dari pekerjaan karena sering bolos,” ujarnya.

Ardi mengalami depresi berat, sempat berpikir untuk mengakhiri hidup, dan akhirnya dirawat di sebuah rumah sakit jiwa selama dua bulan. Ia kini menjalani terapi dan mencoba bangkit, namun luka psikologis dan utang masih membayangi kehidupannya.

Peran Keluarga dan Lingkungan
Fenomena ini juga membuka mata tentang pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam mendeteksi perubahan perilaku seseorang. Banyak korban judi daring yang awalnya menyembunyikan kebiasaan mereka hingga terlambat.

“Keluarga sering kali baru tahu ketika sudah parah. Tiba-tiba barang rumah dijual, tagihan kartu kredit menumpuk, dan perilaku mulai berubah — lebih tertutup atau mudah marah,” ujar Yuli Astuti, aktivis pendamping korban kecanduan judi.

Ia menekankan perlunya literasi digital yang lebih kuat di tengah masyarakat, khususnya terkait bahaya aplikasi-aplikasi ilegal yang menawarkan judi secara tersembunyi.

Langkah Pemerintah Masih Terbatas
Meski pemerintah sudah beberapa kali melakukan pemblokiran terhadap situs-situs judi daring, kenyataannya hal itu belum cukup. Situs-situs tersebut kerap muncul kembali dengan domain baru atau tersebar lewat aplikasi pesan pribadi.

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengklaim telah memblokir lebih dari 1,5 juta konten terkait judi online dalam dua tahun terakhir. Namun, para pakar teknologi menilai bahwa upaya ini perlu dilengkapi dengan langkah preventif lain.

“Selain pemblokiran, edukasi digital dan penindakan hukum harus ditingkatkan. Juga, penting untuk menggandeng platform media sosial dan aplikasi untuk lebih proaktif menyaring konten ilegal,” jelas Nurul Huda, peneliti dari ICT Watch.

Tuntutan Penanganan yang Lebih Komprehensif
Masalah kesehatan mental akibat judi daring dan tekanan finansial tidak bisa diselesaikan dengan satu kebijakan saja. Dibutuhkan kerja sama lintas sektor — mulai dari pemerintah, lembaga keuangan, layanan kesehatan, hingga tokoh masyarakat dan tokoh agama.

“Yang paling penting adalah penyadaran sejak dini. Edukasi tentang bahaya judi, pengelolaan keuangan pribadi, serta keberanian untuk mencari bantuan ketika merasa tertekan harus disosialisasikan luas,” tegas Ratna Wulandari.

Pemerintah juga didesak menyediakan akses layanan psikologis yang terjangkau dan tidak berbelit, terutama di daerah-daerah yang belum memiliki fasilitas kesehatan mental memadai.

Harapan dan Jalan Keluar
Meskipun situasi tampak kelam, banyak penyintas yang membuktikan bahwa pemulihan itu mungkin. Dengan dukungan keluarga, layanan profesional, dan komunitas yang peduli, penderita depresi akibat judi dan tekanan ekonomi bisa kembali menemukan harapan hidup.

“Kami ingin orang-orang tahu bahwa mereka tidak sendiri. Ada jalan keluar. Jangan takut untuk bicara, untuk meminta tolong,” kata Ardi.