Rekti” The Sigit” Mau Imbuh Pengalaman

Rekti” The Sigit” Mau Imbuh Pengalaman

Rekti” The Sigit” Mau Imbuh Pengalaman

Rekti” The Sigit” Mau Imbuh Pengalaman- The Sigit jadi salah satu penampil Forestra 2025, pementasan dengan arak- arakan nada orkestra.

Band rock asal Bandung, The Sigit, akan tampak di tengah hutan pinus dengan arak- arakan gali77 nada orkestra dari Erwin Gutawa Orchestra. Vokalis sekalian gitaris The Sigit, Rekti Yoewono, berambisi peluang ini menaikkan pengalaman artistiknya.

The Sigit jadi salah satu penampil Forestra 2025, suatu pementasan nada rute jenis yang diselenggarakan semenjak 2019 oleh pelopor ABM. Forestra 2025 berjalan di hutan pinus Orchid Forest Cikole, Kecamatan Ceduk, Jawa Barat, pada 30 Agustus 2025.

Tidak hanya The Sigit, terdapat performa dari Reza Artamevia, Voice of Baceprot, Sal Priadi, Bernadya, duo Raja Bergidik, serta Ensemble Tikoro. The Panturas, Iksan Skuter, serta Oom Leo Berkaraoke pula dijadwalkan buat naik pentas. Semacam The Sigit, para penampil pula akan diiringi nada orkestra.

Rekti berkata, ini bukan awal kalinya ia serta bandnya tampak bersama Erwin Gutawa. Walaupun begitu, beliau lumayan dag- dig- dug buat bekerja sama lagi. Lalu, apa ekspektasi Rekti?

” Nyatanya aku tidak pantas berekspektasi( dari kerja sama ini). Malah aku yang di- expect buat penuhi standar patuh orkestra. Di sana bebannya, ha- ha- ha,” tutur Rekti di Ceduk, Rabu( 2 atau 7 atau 2025).” Ekspektasi ke depan bukan pertanyaan hasil, melainkan lebih ke nargetin diri biar enggak malu- maluin. Aku pula menginginkan bonus ilmu serta pengalaman.”

Rekti lumayan bergairah menanti Forestra yang disebutnya pertunjukan seni. Tidak hanya sebab konsepnya menarik, kurasi musisinya juga bagus- bagus. Ada pula musisi yang tampak di Forestra dikurasi antara lain oleh Creative Director Forestra, Jay Subyakto.

Forestra berikan kita tantangan sekalian pengalaman penuh emosi, ialah gimana bawa nada yang umumnya kita mainkan di ruang hitam penuh bias ke tempat yang sepi serta hidup semacam ini.

Bagus Rekti ataupun Erwin sedang sungkan membongkar lagu- lagu apa saja yang hendak mereka bawakan di pentas. Tetapi, Rekti berikan isyarat kalau lagu- lagu mereka yang berwarna rock progresif- lah yang bisa jadi dinyanyikan.

” Kita berawal dari Bandung, namun tidak sering betul- betul memiliki ruang semacam ini; pentas di tengah hutan, di kota sendiri. Forestra berikan kita tantangan sekalian pengalaman penuh emosi, ialah gimana bawa nada yang umumnya kita mainkan di ruang hitam penuh bias ke tempat yang sepi serta hidup semacam ini. Rasanya semacam kembali, namun dengan metode yang betul- betul terkini,” tutur Rekti lagi.

Julukan Rekti Yoewono telah lama sama dengan bumi nada rock Indonesia. Selaku vokalis serta gitaris band The Sigit( The Luar biasa Insurgent Group of Intemperance Talent), laki- laki kelahiran Bandung ini sudah jadi simbol dalam skena nada bebas semenjak dini 2000- an. Tetapi, belum lama ini Rekti membuktikan ketertarikan buat menjelajahi area terkini di luar pentas konser—sebuah tahap yang beliau ucap selaku“ usaha menaikkan pengalaman serta meluaskan alam selaku musisi.”

Dalam tanya jawab khusus baru- baru ini, Rekti mengatakan niatnya buat mempelajari bumi nada di luar The Sigit. Bukan sebab jenuh ataupun mau meninggalkan band yang membesarkan namanya, namun sebab beliau merasa berarti buat lalu bertumbuh serta tidak terperangkap dalam alam aman.“ Saya ingin ngerasain cara inovatif yang beda,” ucap Rekti.“ Saya yakin jika musisi yang bagus itu wajib lalu mencari keadaan terkini yang dapat memperkaya musikalitasnya.”

Penelitian Solo serta Kolaborasi

Tahap awal yang didapat Rekti merupakan dengan mulai melakukan cetak biru nada solo. Beliau berterus terang tengah menata modul buat suatu kecil album( EP) yang rencananya hendak luncurkan akhir tahun ini. Berlainan dengan style rock keras serta bias yang jadi karakteristik khas The Sigit, cetak biru solonya malah hendak lebih banyak mempelajari nada folk, psikedelik, serta bagian elektronik.

“ Terdapat lagu yang hanya pake gitar akustik serta bunyi. Terdapat pula yang pake drum machine serta synth. Saya ingin nyeritain bagian lain dari diri saya yang sepanjang ini bisa jadi tidak sangat nampak di The Sigit,” jelasnya.

Tidak cuma itu, Rekti pula terbuka buat bermacam kerja sama rute jenis. Beliau disebut- sebut tengah menjalakan komunikasi dengan sebagian musisi jazz, hip- hop, sampai electronic underground scene di Jakarta serta Yogyakarta.“ Kita memiliki banyak bakat aksi di bermacam jenis, serta saya ingin berlatih dari mereka pula. Ini bukan hanya pertanyaan buat lagu serempak, tetapi lebih ke silih ubah perspektif,” tuturnya.

Tantangan Terkini: Bumi Film serta Scoring

Menariknya, Rekti pula mulai memeriksa bumi film. Dalam durasi dekat, beliau hendak memuat nada kerangka( scoring) buat suatu film bebas garapan sutradara belia Indonesia yang luang berkompetisi di pergelaran film luar negara.“ Prosesnya beda amat sangat serupa buat lagu lazim. Di mari saya wajib bener- bener liabel serupa narasi, visual, serta irama film. Tetapi malah itu yang buat menarik,” ucapnya.

Rekti berterus terang termotivasi dari komposer film semacam Jonny Greenwood( Radiohead) serta Trent Reznor( Nine Inch Nails) yang berhasil menyeberang ke bumi scoring tanpa kehabisan kepribadian musikal mereka.“ Mereka dapat senantiasa jadi diri mereka sendiri walaupun lagi menggarap nada buat alat yang berlainan. Saya ingin dapat semacam itu pula,” tambahnya.

Tidak Bebas dari The Sigit

Walaupun tengah padat jadwal dengan proyek- proyek individu, Rekti menerangkan kalau dirinya tidak hendak meninggalkan The Sigit. Beliau membenarkan kalau band ini senantiasa berjalan serta lagi dalam langkah pengerjaan album terkini.“ The Sigit itu rumah saya. Apapun yang saya jalani di luar, senantiasa akan balik ke sana. Tetapi rumah juga memerlukan penyempuraan supaya senantiasa aman, kan?” ucapnya sembari tersimpul.

Band rock asal Bandung itu sendiri terakhir mengeluarkan album pada 2013, berjudul Detourn. Semenjak dikala itu, mereka lebih banyak fokus pada rekreasi serta performa pentas. Tetapi, para penggemar sudah lama menantikan buatan terkini dari band ini.“ Kita lagi garap suatu yang terkini. Musiknya senantiasa The Sigit, tetapi pula hendak terdapat kejutan,” kata Rekti tanpa menarangkan lebih lanjut.

Reaksi Komunitas serta Penggemar

Tahap Rekti ini menemukan sambutan beraneka ragam dari komunitas nada serta para fansnya. Banyak yang mensupport serta bersemangat memandang bagian lain dari musisi yang sepanjang ini diketahui garang di atas pentas. Di alat sosial, tidak sedikit yang menyanjung kegagahan Rekti dalam menjelajahi alam yang belum sempat beliau masuki lebih dahulu.

Salah satu penggemar menulis di Twitter:“ Rekti senantiasa jadi pionir. Tak bingung jika ia ingin coba perihal terkini. Saya percaya hasilnya akan aksi.” Sedangkan itu, sebagian yang lain berambisi supaya kegiatan solo tidak membuat The Sigit terbengkalai.“ Asal The Sigit tetep jalur, kita bawa 100% investigasi abang Rekti,” catat akun penggemar di Instagram.

Mendesak Re- genarisi Musisi

Di balik langkahnya menaikkan pengalaman, Rekti pula mau mendesak musisi belia buat tidak khawatir bereksperimen. Beliau yakin kalau keanekaan serta kegagahan dalam bermusik merupakan kunci buat melindungi keberlangsungan serta relevansi pabrik nada Indonesia.“ Janganlah hanya bermain nyaman. Jika lo memiliki ilham edan, coba aja. Nada itu pertanyaan jujur serta investigasi,” pesannya.

Rekti pula mengantarkan kalau beliau lagi merintis suatu ruang inovatif kecil di Bandung yang dapat jadi media kerja sama antara artis, musisi, serta kreator film. Tempat ini esoknya hendak jadi sanggar, ruang pementasan kecil, serta tempat dialog.“ Saya ingin tolong menghasilkan ekosistem yang segar untuk pelakon seni bebas. Supaya re- genarisi senantiasa jalur,” tuturnya.

Kesimpulan

Ekspedisi terkini Rekti Yoewono ini jadi fakta kalau seseorang musisi asli tidak sempat menyudahi berlatih. Di tengah kenyamanan selaku frontman band rock kediaman atas, beliau malah memilah menantang diri sendiri dengan proyek- proyek terkini. Dari investigasi nada solo, kerja sama rute jenis, sampai menjalar bumi scoring film, seluruh beliau lakukan untuk satu tujuan: menaikkan pengalaman serta memperkaya buatan.

Tindakan ini bukan cuma menginspirasi musisi belia, namun pula menampilkan kalau nada merupakan cara yang lalu beranjak. Serta sepanjang cara itu lalu hidup, hingga musisi semacam Rekti hendak senantiasa memiliki tempat di batin para pendengarnya.